Monday, March 21, 2011

Usaha Kreatif Kerajinan Fiberglass

Seiring perkembangan jaman, usaha di indonesia mengalami perkembangan yang cukup pesat. hal ini karena adanya perkembangan teknologi dan tuntutan dari konsumen yang mendesak. Nah.. Untuk bisa eksis, suatu usaha perlu diberikan warna baru (kreatif), agar mampu memenuhi tuntutan pasar global.

Satu usaha yang saya amati tentang usaha kerajinan tangan dengan menggunakan fiberglass. ternyata dengan usaha seperti ini Mas Tulakir, pemilik kerajinan tangan fiberglass "Putra Bandhung Bondowoso" mampu bersaing dengan pedagang2 barang-barang fiberglass yang lain. Hal ini tidak lepas dari ide-ide kreatif, karena kalau g kreatif ya konsumen akan merasa bosan dengan produk yang itu-itu saja.

Pada saat ini, beberapa produk kerajinan tangan yang di buat oleh "Putra Bandhung Bondowoso antara lain:

  • Asbak
  • Patung
  • Tempat pensil
  • Miniatur
  • Kaligrafi
  • Gading
  • Gantungan Kunci
  • dan lain-lain.
Apabila ada konsumen pesan barang dengan desain sendiri, tentunya di layani.

Thursday, March 10, 2011

[Motivasi] Kisah Pipo vs Embro

Beda kepala, kadang beda MINDSET, katanya. Tapi MINDSET bisa ditularkan kok…. Itu semacam sugesti, kata para ahli dan motivator. :D . Ini cerita di ambil dari potongan cerita di buku The Cashflow Quadrant, yang kebetulan tadi siang di share juga oleh Bpk. Ardiansyah di mata kuliah Technopreneurship.

Btw, MINDSET itu apaan sih? Ya itu, MINDSET = Pola Pikir. Pola pikir yang dimaksud disini adalah pola pikir tentang cara bagaimana kita mendapatkan penghasilan. Artinya, cara kita mencari sumber mata pencarian untuk menghasilkan uang.

Saat itu tahun 1801. Pada sebuah lembah di Italia. Pada zaman dahulu kala, begitu kisah ini dimulai, ada dua orang saudara sepupu yg tinggal di tempat itu. Keduanya dikenal punya semangat dan ambisi yg kuat untuk menggapai kemajuan. Yang pertama bernama Pipo, yang kedua bernama Embro. Keduanya tinggal dalam rumah yg berdampingan di desa kecil dalam lembah itu.

Keduanya sering berkhayal, suatu saat nanti mereka akan menjadi orang yang paling kaya di desa itu. Mereka berdua sama-sama cemerlang dan sangat tekun dalam bekerja. Yang mereka perlukan hanyalah kesempatan utk mewujudkan impian itu.

Pada suatu hari, kesempatan itu muncul secara tiba-tiba. Kepala desa disitu memutuskan mempekerjakan mereka utk membawa air dari sungai yg terletak di pinggir desa, ke tempat penampungan air yg terletak di tengah desa tsb. Intinya, pekerjaan itu dipercayakan kepada Pipo dan Embro.

Singkat cerita, keduanya langsung membawa dua buah ember dan segera menuju ke sungai. Sepanjang siang keduanya mengangkut air dengan ember. Menjelang sore, tempat penampungan air sudah penuh sampai ke permukaan. Kepala desa menggaji keduanya berdasar jumlah ember air yg masing-masing mereka bawa. Begitu pekerjaan itu di lakukan setiap hari selama beberapa waktu.

“Wow, apa yg kita cita-citakan selama ini akan terkabul!” teriak Embro gembira. “Rasanya sulit dipercaya, kita mendapatkan penghasilan sebanyak ini”.

Namun, Pipo tidak berhenti sampai disitu saja. Dia tidak yakin begitu saja. Setiap pulang ke rumah, Pipo merasakan punggungnya nyeri semua. Kedua telapak tangannya juga lecet-lecet. Begitu pagi tiba, perasaannya jadi kecut karena harus pergi bekerja. Tidak ingin punggung dan tangannya bermasalah lagi, Pipo justru berpikir keras mencari akal bagaimana caranya mengangkut air dari sungai ke desa tanpa harus terluka. Tanpa harus menanggung rasa nyeri di punggung. Tanpa melakukan hal itu semur hidupnya!

“Embro, aku punya rencana,” kata Pablo keesokan harinya. “Daripada kita mondar-mandir setiap hari membawa ember ke sungai dan hanya mendapatkan beberapa sen per hari, mengapa tidak sekalian saja kita membangun pipa saluran air dari sungai ke desa kita.”

Embro langsung menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. “Saluran pipa air! Ide dari mana itu!” kata Bruno tegas. “Kita kan sudah mempunyai pekerjaan yg sangat bagus dan menghasilkan uang dengan mudah, Pipo. Aku bisa membawa seratus ember sehari. Dengan upah satu sen per ember, berarti penghasilan kita bisa satu dolar per hari! Aku akan menjadi orang kaya. Dan ini berarti pada setiap akhir minggu aku bisa membeli sepasang sepatu baru. Pada setiap akhir bulan, aku bisa membeli seekor sapi. Setelah enam bulan kemudian, aku bisa membangun sebuah rumah kecil. Kau melihat, tidak ada pekerjaan semenguntungkan mengangkut air di desa ini. Lagipula, pada setiap akhir minggu kita mendapat libur. Setiap akhir tahun kita juga mendapat cuti dua minggu dengan gaji penuh. Kita akan hidup dengan sangat layak, dilihat dari sudut manapun. Jadi, buang jauh-jauh idemu utk membangun saluran pipa airmu itu.”

Tapi Pipo tidak putus asa. Dia tetap bersikukuh pada idenya itu. Dengan sabar dia menerangkan bagaimana proses membangun pipa salurannya itu kepada sahabatnya. Embro tak beranjak sedikitpun dengan tawaran Pipo.

Akhirnya, Pipo memutuskan utk bekerja paruh waktu saja. Dia tetap bekerja mengangkuti ember-ember itu. Sementara sisa waktunya, ditambah libur akhir minggunya, dia pakai utk membangun saluran pipanya itu.

----

Sejak awal melakukan pekerjaannya ini, Pipo telah menyadari akan sangat sulit membangun saluran pipa itu dari sungai ke desanya. Menggali di tanah keras yg mengandung banyak batu jelas tak kalah menyakitkannya dengan luka lecet dan punggung nyeri karena mengangkut air.

Pipo juga menyadari, karena upah yang dia terima sekarang berdasarkan jumlah ember yang diangkutnya, maka penghasilannyapun secara otomatis menurun. Dia juga sudah sangat paham bahwa dibutuhkan waktu satu atau dua tahun sebelum saluran pipanya itu bisa berfungsi seperti yg dia harapkan.

Namun, Pipo tak pernah kendur dengan keyakinannya. Dia tahu persis akan impian dan cita-citanya. Sebab itu dia terus bekerja tanpa kenal lelah.

Kini, pemandangan kontras mulai tampak diantara kedua sahabat itu. Sementara Embro asyik berbaring santai di hammock (tempat tidur gantung berupa jaring) pada sore hari, pada akhir minggu, Pipo tampak terus berlelehan keringat menggali saluran pipanya. Pada bulan-bulan awal, Pipo memang tak menunjukkan hasil apapun dari usahanya. Tampak betul bahwa pekerjaannya sangat berat. Bahkan jauh lebih berat dari pekerjaan yg dilakukan Embro. Selain harus tetap bekerja pada akhir minggu, Pipo juga bekerja di malam hari.

Tapi Pipo selalu mengingatkan pada diri sendiri bahwa cita-cita masa depan itu sesungguhnya dibangun berdasarkan pada perjuangan yg dilakukan hari ini. Dari hari ke hari dia terus menggali. Mili demi mili, senti demi senti!

Pepatah yg selalu diingat Pipo adalah, sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit. Dia selalu bersenandung setiap mengayunkan cangkulnya ke tanah yg mengandung batu karang. Dari satu centimeter, menjadi dua centi meter, sepuluh centi meter, satu meter, duapuluh meter, seratus meter, dan seterusnya….

Dan, Pipo mulai melihat hasil kerja kerasnya… meski belum maksimal…

“Fokuslah pada imbalan yg akan kau peroleh dari pekerjaanmu”. Kata-kata itu terus diingat Pipo, dan dia ulang-ulang setiap akan pergi tidur. Fokus, fokus,fokus…. Imbalannya pasti jauh lebih besar….

----

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Dan pada suatu hari, Pipo menyadari saluran pipanya sudah tampak setengah jadi.

Setiap saat beristirahat, Pipo menyaksikan sahabatnya Embro yg terus saja mengangkat ember-ember. Bahu Embro juga tampak semakin lama semakin membungkuk. Dia tampak menyeringai kesakitan, meski sering berusaha dia sembunyikan. Langkahnya juga semakin lamban, akibat kerja keras setiap hari.

Akhirnya, terjadi juga kegemparan di desa itu. Saat bahagia Pipo pun tiba. Saluran yg dia bangun sudah selesai. Hampir semua orang desa berkumpul saat air mulai mengalir dari saluran pipanya menuju ke penampungan air di desa. Sekarang, desa itu sudah bisa mendapat pasokan air bersih secara tetap. Bahkan penduduk desa yg sebelumnya tinggal agak jauh dari tempat itu kemudian pindah mencari tempat yg lebih dekat dengan sumber air itu.

Setelah saluran pipa itu selesai, Pipo tidak perlu lagi membawa-bawa ember. Airnya akan terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik dia sedang bekerja maupun tidak. Air itu terus mengalir, baik saat dia makan, tidur ataupun bermain-main. Air itu tetap mengalir di akhir minggu ketika dia menikmati banyak permainan. Semakin banyak air yg mengalir ke desa, semakin banyak pula uang yg mengalir ke kantung Pipo.

Pipo yg tadinya terkenal dengan julukan Pipo si Manusia Pipa, kini menjadi lebih terkenal dengan sebutan Pipo si Manusia Ajaib. Tetapi, Pipo paham sekali apa yg sesungguhnya dia capai bukanlah sebuah keajaiban. Ini semua sebenarnya barulah langkah awal dari suatu pencapaian cita-cita yg besar. Memang benar, nyatanya Pipo mempunyai rencana yg jauh lebih besar daripada apa yg sudah dihasilkan di desanya.

----

Tahun demi tahun pun berlalu. Pipo sudah lama pensiun. Usaha saluran pipa-nya yg mendunia terus-menerus mengalirkan ratusan juta dollar per tahun ke rekening-rekening bank dia. Ketika ia jalan-jalan di desa, kadang-kadang ia melihat beberapa orang pemuda. Mereka tampak sibuk mengangkuti air dengan ember, dan hal itu mengingatkannya pada masa dimana ia pernah juga menjadi pengangkut ember yang sama seperti mereka….

END




Tuesday, March 1, 2011

Kisah Jack Canfield

Ada kisah yg menarik JACK CANFIELD
Copy paste aja :D

Bagi saya, Rahasia ini sungguh mengubah hidup saya karena saya dibesarkan bersama
seroang ayah yang sangat negatif, yang berpikir bahwa orang kaya adalah orang yang
memiskinkan setiap orang lain, dan bahwa setiap orang yang mempunyai uang pastilah
telah menipu seseorang alinnya. Jadi, saya dibesarkan degnan banyak kepercayaan
tentang uang. Jika Anda memiliki uang, uang akan membuat Anda menjadi orang yang
buruk; hanya orang jahat yang mempunyai uang; dan uang tidak tumbuh di pohon.

“Kamu pikir saya ini siapa? Rockefeller?” Itu adalah salah satu kalimat favoritnya.
Jadi, saya tumbuh menjadi orang yang sungguh-sungguh percaya bahwa hidup ini sulit.
Baru ketika saya bertemu W. Clement Stone-lah saya mulai mengubah hidup saya.
Ketika saya masih bekerja dengan Stone, ia berkata, “Saya ingin kamu
menetapkan sebuah tujuan yang sangat besar yang jika tercapai akan membuat kamu
takjub, dan kamu akan tahu bahwa itu hanya disebabkan oleh apa yang telah saya
ajarkan padamu bahwa kamu akan bisa mencapai tujuan ini.” Pada saat itu saya
berpenghasilan sekitar delapan ribu dolar setahun, jadi saya berkata, “Saya ingin
berpenghasilan seratus ribu dolar setahun.” Saya tidak tahu bagaimana saya dapat
melakukannya. Saya tidak melihat adanya strategi atau kemungkinan, saya hanya
berkata, “Saya akan mengumumkannya, saya akan memercayainya, saya akan bersikap
seakan-akan ini memang benar, lalu melepaskannya.” Jadi, saya melakukannya.

Satu hal yang ia ajarkan pada saya adalah setiap hari memejamkan mata dan
memvisualkan seakan-akan tujuan itu sudah tercapai. Saya sungguh-sungguh membuat
cek seratus ribu dolar dan memasangnya di langit-langit. Jadi, begitu bangun pagi, saya
memandang ke atas dan melihatnya, dan itu akan mengingatkan saya pada niat saya.

Kemudian saya memejamkan mata dan memvisualkan memiliki gaya hidup orang yang
berpenghasilan seratus ribu dolar setahun. Yang menarik, tidak ada peristiwa besar
yang terjadi selama sekitar tiga puluh hari. Saya tidak mendapatkan ide-ide cemerlang,
tidak ada juga orang yang menawarkan lebih banyak uang kepada saya.
Sekitar empat minggu sesudahnya, saya mendapat ide bernilai seratu ribu dolar.

Ide itu muncul tiba-tiba dalam benak saya. Saya telah menulis sebuah buku, dan saya
berkata, “Jika saya dapat menjual empat ratus ribu buku dengan harga 25 sen per buku,
itu akan menjadi seratus ribu dolar.” Buku-buku itu sudah ada di sana, tetapi saya tidak
pernah berpikir seperti ini. (Salah satu hal dari Rahasia adalah ketika Anda memiliki
ilham, Anda harus memercayainya dan menindaklanjutinya.) Saya tidak tahu bagaimana
saya akan menjual empat ratus ribu buku. Kemudian saya melihat koran National
Enquirer di pasar swalayan. Saya telah melihatnya jutaan kali, dan koran itu hanya ada
di latar belakang benak saya. Tiba-tiba koran itu melompat ke latar depan. Saya
berpikir, “Jika pembaca mengetahui tentang buku saya, pasti empat ratus ribu orang
akan membelinya.”

Sekitar enam minggu kemudian, saya berbicara di Hunter College di New York
kepada enam ratus guru, lalu seorang perempuan mendekati saya dan berkata, “Itu tadi
pidato yang bagus. Saya ingin mewawancarai Anda. Ini kartu nama saya.” Ternyata ia
adalah penulis lepas yang menjual ceritanya ke National Enquirer. Tema dari “The
Twilight Zone” muncul di kepala saya, wah…ini sungguh-sungguh ampuh. Artikel itu
muncul dan penjualan buku kami mulai mencuat.

Thursday, October 28, 2010

Karyawan atau Wirausaha ???

Beberapa waktu yang lalu saya diskusi dengan temen kampus tentang wirausaha, sampai timbul pertanyaan "enak mana sih, jadi karyawan atau wirausaha?"

kalo jadi karyawan :

  1. Penghasilan tetap.
  2. Aman, tidak resiko.
  3. Mengerjakan yang di tugaskan.
  4. Waktu kerja teratur.
  5. dll.
klo jadi wirausaha :
  1. Tetap berpenghasilan.
  2. Resiko menghantui, tapi untung juga mengikuti. (harap² cemas)
  3. Mengerjakan sesuai kehendak hati, bebas berekspresi.
  4. Waktu kerja bisa menentukan sendiri.
  5. dll.
Dari hasil pengalaman saya (kuliah sambil kerja), jadi karyawan tu gak enak. Gak isa kaya² dan koneksinya cuma itu² doank.
Enak kali ya klo jadi pengusaha, tapi harus BONEK alias "bondo nekat". Kalo gagal ya terjun, kalo berhasil ya bener² kaya :D

Tips jadi pengusaha (hasil googling) :
  1. Passion (harus cinta terhadap bidang kerjaan)
  2. Independent (mandiri)
  3. Market sensitivity ( bisa melihat dan memanfaatkan tren pasar)
  4. Creative &Innovative (iya dong jelas.. kalo sama2 jualan kelontong sama tetangga, apa yang membuat toko kita lebih bayak dibeli orang? Harus kreatif lah.. )
  5. Calculated Risk Taker ( ngga asal nekad bro.. tapi dipikir2 dulu sama profit yang didapat)
  6. Persistent (tekun -> wajib)
  7. High Ethical Standart ( kalo sudah jadi pengusaha, jangan lupa GO GREEN ya, masyarakat sekitar tolong dihidupi.. :D)

Tuesday, October 19, 2010

Tiga Rahasia

Saudagar Kaya Raya itu akhirnya menjelang ajal nya. Dipenghujung umurnya, begitu banyak yang sudah dilakukannya. Sebuah kerajaan bisnis raksasa telah dibangunnya. Ribuan orang bekerja dan mencari nafkah dari usaha-usaha dagang yang dimilikinya hingga manca Negara. Kini saatnya untuk meninggalkan kehidupan dunia nya dan menghadap Sang Khalik. Tinggal satu tugas lagi yang harus dilakukannya. Mempersiapkan Putera nya untuk meneruskan apa yang sudah diperjuangkannya.

Putera Saudagar menghadap Ayahandanya dengan tertunduk. “Wahai putera ku…” Sang Saudagar berkata lirih. “Apakah aku sudah mengajarkan seluruh ilmu perdaganganku kepada mu?”. Sang Putera mengangguk. “Apakah kamu yakin bisa melaksanakan apa yang dahulu pernah aku lakukan?” Sang Putera menjawab “Jika Tuhan mengizinkan, saya yakin bisa…”. Sang Saudagar tersenyum, “Kalau demikian, ketahuilah, bahwa aku sudah menyerahkan seluruh harta yang dititipkan kepadaku, untuk dibagikan kepada fakir miskin di seluruh negeri…” . Sang Saudagar menghela nafas pelan “Mengertilah anak-ku, aku tidak ingin harta titipan ini membebani kehidupanku di akherat kelak …”

Sang Putera terpana tidak percaya dengan apa yang didengarnya, namun tidak membantah karena memahami kebenaran ucapan Ayahnya. “Wahai Puteraku… Setelah pemakamanku, Engkau akan pergi dari rumah ini dengan tidak membawa sedikitpun harta yang sesungguhnya diamanatkan kepadaku…” Sang Saudagar menggenggam erat tangan Putera nya.” Namun aku mewariskan sebuah buku catatanku yang paling berharga, buku ini berisi 3 rahasia supaya Engkau bisa menjalani kehidupan ini lebih baik dari yang aku lakukan”.

Saudagar tua itupun mangkat. Dan Putera Saudagar hanya mewarisi satu buah buku catatan kecil yang teramat tipis. Sesuai amanat, Sang Putera segera meninggalkan rumah mewah Ayahnya ketika pemakaman sudah dilaksanakan. Sang Putera yang dulu hidup mewah, kini harus hidup seperti gelandangan, dari satu kampung ke kampung lain, menjual jasa sebagai kuli dan buruh kasar sekedar untuk menyambung hidup. Pupus sudah harapan untuk hidup nyaman sebagaimana kehidupan sewaktu Ayahnya hidup kelak..

Di tengah malam yang dingin, tidur di sebuah gudang milik majikan yang memberikan pekerjaan sebagai buruh, Putera Saudagar teringat dengan buku warisan Ayahnya. Dibuka perlahan buku lusuh tadi dan dibaca halaman pertama yang ternyata hanya berisi dua kata:

“Jangan Takut”

Jangan Takut? Jangan Takut? Hanya itu? Inikah buku berharga itui? Dilemparkannya buku lusuh tadi ke dalam koper tua nya dengan marah… Putera Saudagar malam itu tdk bisa memejamkan mata nya. Pikiran nya dipenuhi dengan amarah atas kata-kata yang tertulis di buku warisan Ayahnya. Seolah Ayahnya ingin mentertawakan nasib nya dari alam baka sana… Berbagai pemikiran datang silih berganti. Muncul pertanyaan: Benarkah Saya tidak takut? Kalau benar, mengapa kemarin dia tidak berani menyampaikan pendapat ketika melihat usaha pertanian majikannya yang sangat tidak efisien? Mengapa ia terdiam ketika majikan nya meminta nya berpendapat? Barangkali Aku memang takut … Demikian kesimpulan Sang Putera. Takut mengambil tindakan.

Keesokan hari nya, Putera Saudagar memberanikan diri untuk menghadap majikan nya. Dengan berani, Ia menyampaikan betapa hasil ladang pertanian milik majikan nya dapat ditingkatkan 5 – 10 kali lipat jika menerapkan cara-cara yang modern. “Kalau setelah ini aku dipecat biarlah, yang penting aku sudah berani melakukan sesuatu…” Demikian kata Sang Putera dalam hati.

Tidak disangka Sang Majikan senang bukan kepalang dengan pemikiran-pemikiran Putera Saudagar. Segera Majikan menunjuk Putera Saudagar menjadi tangan kanan nya untuk melaksanakan gagasannya. Bayaran dan fasilitas baru pun diterimanya. Dan terbukti, dalam hitungan bulan pertanian Sang Majikan maju pesat dan menjadi yang terbaik di wilayahnya.

Sang Putera kini memiliki kehidupan yang jauh lebih baik. Sang Majikan meminjami rumah yang layak, kendaraan dan penghasilan yang cukup. Namun, Sang Putera paham, bahwa bukan ini tujuan nya. Ia ingin menjadi seperti Ayahandanya dulu, Sang Saudagar. Maka sekali lagi dikerahkan keberaniannya untuk mengusulkan diri menjadi agen penjualan hasil pertanian majikan nya di kota lain. Sang Majikan yang yakin dengan kemampuan Sang Putera setuju. Dan berangkatlah Sang Putera ke kota besar terdekat untuk berdagang hasil pertanian dari mantan majikan nya… Dalam hati kecil nya Sang Putera berkata “Aku tidak takut!”.

Tiga hingga enam bulan pertama perdagangan berjalan baik. Namun pada bulan ketujuh, bencana datang. Pertanian Sang Majikan diserbu hama. Pasokan ke Sang Putera di kota besar pun terhenti total. Sementara Sang Putera memiliki kontrak untuk memasok ke toko-toko besar kota tersebut. Karena gagal menyerahkan barang, seketika habis-lah usaha Sang Putera, pelanggan hilang kepercayaan kepadanya. Sang Putera pun harus menghadapi kenyataan.. Usaha nya berakhir. Mungkin bukan takdirnya berdagang? Sang Putera sudah bersiap untuk kembali ke Majikan nya yang lama, atau mencari majikan baru.

Terpekur sendirian, Sang Putera kembali teringat buku warisan Ayahnya. Dibongkarnya kembali koper tua nya. Dan kembali dibaca nya buku tipis tadi. Halaman pertama: “Jangan Takut”. Ya, aku tidak takut… Dengan bergetar dibaliknya halaman kedua, yang juga berisi dua kata:

“Jangan Menyerah”

Bagai disambar petir membaca 2 kata tadi. Ya! Hampir dia menyerah. Baru mendapat satu cobaan dalam usaha, sudah terpikir untuk menyerah. Tidak sabar untuk segera melakukan sesuatu, dikembalikan buku tipis Ayahnya kedalam koper dan segera keluar meninggalkan persembunyiannya.

Hari itu, Sang Putera pergi ke kota pertanian lain terdekat yang jauh dari wabah hama. Melalui koneksi yang sudah terbangun sebelumnya, ditemuinya petani paling besar dan disepakatinya perjanjian untuk menjadi agen produk pertanian di kota nya. Kemudian dilakukannya hal yang sama di kota-kota pertanian lain. Juga ditemuinya ahli-ahli pertanian untuk mendapatkan cara penanggulangan hama, dan dikirimkannya ahli-ahli tadi ke mantan Majikannya. Masalah pasokan mulai teratasi, lalu ditemuinya pelanggan-pelanggan yang sudah memutuskan kontrak, dan diyakinkannya bahwa kini ia memiliki pasokan yang lebih terjamin, dan dengan harga yang lebih baik.

Satu bulan upaya tersebut dilakukan meski belum membuahkan hasil secara financial. Tapi, lambat laun order kembali datang. Pasokan berjalan lancar, bahkan Sang Putera bisa menyalurkan produk pertanian untuk kota-kota lain yang membutuhkan. Dalam tiga bulan, usaha perdagangan hasil pertanian nya sudah melampaui perdagangan sebelum bencana datang. Karyawan baru direkrut, kantor di kota-kota lain pun mulai dibangun nya.

Dalam setahun, Sang Putera sudah menjadi pedagang besar hasil pertanian dengan Kantor di lima kota yang berbeda. Kalau dulu ia harus kesana kemari mencari peluang, kini peluang yang mendatangi nya. Toko-toko besar kini meminta nya menjadi pemasok berbagai produk pertanian. Sebagai pedagang, Sang Putera hanya menikmati margin keuntungan dari harga yang diberikan Petani.

Dengan penjualan yang semakin besar, terpikirlah untuk membuka lahan pertanian sendiri. Toh dia berpengalaman mengelola pertanian majikannya dulu. Dengan dukungan pinjaman dana bank yang sangat besar, maka dibelilah lahan diseputar kota untuk dijadikan perkebunan. Dan kini Sang Putera tidak hanya menjadi perantara, tapi juga penghasil produk pertanian. Kontrak dengan petani pemasoknya? Ah, mudah saja diputuskan sepihak.

Tidak sampai disitu, pinjaman dana bank kembali dikucurkan untuk membuka toko-toko sendiri. Jadi kini di lima kota Sang Putera memiliki dari lahan pertanian hingga pertokoan yang menjual hasil pertaniannya sendiri.. Dalam posisinya sekarang dengan mudah Sang Putera menolak untuk memasok ke toko pesaing.

Sang Putera pun kini bisa memainkan harga sekehendak sendiri. Ditekannya harga serendah-rendah nya untuk mengalahkan toko pesaing. Tak dinyana, toko-toko pesaing bereaksi dengan menekan harga juga. Perang harga pun tidak dapat dielakkan. Dan toko Sang Putera maupun toko pesaing pun lambat laun tidak dapat bertahan. PHK mulai dilakukan, kualitas produk mulai tidak terjaga, dan ditinggalkan pelanggan. Karena permintaan jatuh, ladang2 pertanian pun terkena akibatnya. Terkadang hasil pertanian harus dimusnahkan karena tidak tersalurkan. Sementara, hutang bank mulai harus dibayar..

Dengan arus kas negatif. Sang Putera tak mampu membayar pinjaman… Bank pun mengirimkan debt koletor, menagih dengan cara halus maupun kasar. Karyawan mulai harus di PHK, pelanggan, pemasok dan mitra usaha mulai meninggalkan. Usaha Sang Putera kembali ke titik nol, bahkan negatif.

Tertegun Sang Putera mengemasi barang nya yang hanya tinggal sebuah koper tua. Dibukanya dan diambilnya buku lusuh Ayahnya. Dibaliknya dua halaman pertama, dan di halaman ketiga tertera dua kata:

“Jangan Serakah”

Ya! Betapa ia telah serakah. Ingin menguasai juga rizki yang tadinya menjadi hak orang lain. Ia porak porandakan kerjasama dengan mitra-mitra usaha, demi mendapatkan lebih banyak. Tapi kini usahanya sudah ada di titik nol. Harus bagaimana? Kemudian ia teringat halaman pertama dan kedua yg berbunyi: “Jangan Takut”, dan “Jangan Menyerah”…

Segera ia menghubungi Bank nya. Dinegosiasikannya pola pembayaran baru. Ditawarkannya likuidasi asset yang tidak produktif untuk membayar sebagian hutang, dan untuk modal memulai usaha perdagangan yang baru. Dihubunginya kembali petani-petani yang dulu menjadi pemasoknya. Sang Putera bicara dari hati kehati dan mengakui kesalahannya, dan menawarkan kesepakatan baru. Toko-toko yang sempat terguncang mulai bangkit lagi dan memerlukan pemasok. Sang Putera menawarkan pasokan baru dengan jaminan kualitas, kuantitas dan harga yang baru.

Perbankan mempercayai usulan Sang Putera, dan satu dua toko menyetujui penawarannya. Usaha mulai menggelinding sekalipun sangat perlahan. Hanya waktu yang bisa membuktikan dan menyembuhkan. Kepercayaan kepada Sang Putera tidak diberikan begitu saja, namun harus diraihnya meski perlahan. Dalam satu tahun, usaha perdagangan Sang Putera pulih. Kewajiban ke bank mulai terbayar dan bank mulai berani memberikan pinjaman kembali. Dalam 3 tahun, usaha Sang Putera jauh lebih besar. Sepuluh kota kini dalam jangkauannya. Sistem perdagangan sudah terbangun dengan baik, dan Sang Putera tinggal menikmati kerja keras nya.

Dibuka nya kembali buku lusuh warisan Ayahnya. Sebuah buku catatan tipis. Ia tahu Ayahnya bukan orang terpelajar, dan ia tidak pernah berharap buku tadi berisi teori bisnis. Buku tadi hanya berisi Tiga Kalimat. Tiga rahasia yang telah menyelamatkan dia dari kehancuran. Buku tipis yang akan diisinya dengan catatan-catatannya sendiri di halaman-halaman berikutnya, dan kelak akan diteruskannya kepada anaknya. (FR).

* Cerita dalam Moti-Fiction ini imajinasi saja, meski terinspirasi bbrp kejadian nyata...


dari tangandiatas.com

Tags

Visitor